Rabu, 09 Mei 2018

SEJARAH KONSEP EKOLOGI

SEJARAH KONSEP EKOLOGI

A.           Sejarah Konsep Ekologi Dilihat dari Asal- Usul Katanya
Ekologi telah berkembang maju selama sejarah perkembangan manusia. Berbagai tulisan ilmuan sejak Hipocrates, Aristoteles, hingga filosof lainnya merupakan naskah-naskah kuno yang berisi rujukan tentang masalah-masalah ekologi, walaupun pada waktu itu belum diberikan nama ekologi. Kata ”ekologi” mula-mula diusulkan oleh biologiwan bangsa Jerman, Ernest Haeckel dalam tahun 1869. Sebelumnya banyak biologiwan terkenal di abad ke-18 dan ke-19 telah memberikan sumbangan pikiran dalam bidang ini, sekalipun belum menggunakan kata ”ekologi”. Antony van Leeuwenhoek lebih dikenal sebagai pelopor ahli mikroskop pada tahun 1700-an, memelopori pula pengkajian rantai makanan dan pengaturan populasi. Tulisan botaniwan bangsa Inggris Richard Bradley menyatakan bahwa ia memahami betul hal produktivitas biologis.
Ekologi mulai berkembang pesat sekitar tahun 1900 dan berkembang terus dengan cepat sampai saat ini, apalagi disaat dunia sangat peka dengan masalah lingkungan. Ekologi merupakan cabang ilmu yang mendasar dan berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Pada awalnya, ekologi dibedakan dengan jelas ke dalam ekologi tumbuhan dan ekologi hewan. Namun dengan adanya faham komunitas biotik yang dikemukakan oleh F.E Clements dan V.E.Shelford, faham rantai makanan dan siklus materi oleh Raymond Lindeman dan G.E. Hutchinson serta pengkajian sistem danau secara keseluruhan oleh E.A. Birge dan Chauncy Juday, maka semua konsep tersebut telah meletakkan dasar-dasar teori untuk perkembangan ekologi secara umum. Saat ini tampaknya semua orang wajib mengetahui ekologi, sehingga ilmu ini menjadi bintang diantara cabang ilmu, dimana selama ini hanya menjadi penunjang.
Prinsip- prinsip dalam ekologi dapat menerangkan dan memberikan pemahaman dalam mencari jalan untuk mencapai kehidupan yang lebih layak. Timbulnya gerakan kesadaran lingkungan terutama pada tahun 1968 dan 1970, semua orang ikut memikirkan masalah polusi, pelestarian alam, kependudukan dan konsumsi pangan dan energi. Peningkatan perhatian masyarakat terhadap permasalahan lingkungan hidup memberi pengaruh yang kuat terhadap perkembangan ekologi dan ilmu pengetahuan. Sebelum tahun 1970-an, ekologi dipandang sebagai bagian dari biologi. Ekologi telah berkembang menjadi bagian biologi yang sangat penting dan merupakan disiplin ilmu baru yang mempertanyakan proses-proses fisis dan biologis dan menjembatani ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial (Odum 1971). Sementara ruang lingkup ekologi semakin luas, pengkajian tentang bagaimana individu dan spesies berinteraksi serta menggunakan sumberdaya alam semakin diintensifkan. Ekologi mempelajari rumah tangga mahluk hidup (oikos), istilah yang digunakan oleh Ernst Haeckel sejak tahun 1869 (Odum 1983).

           B.    Konsep Ekologi sebagai Sistem
Ekologi adalah salah satu cabang ilmu biologi yaitu ilmu yang menjelaskan hubungan antara organisme dan lingkungannya. Ada juga yang menganggap ekologi adalah suatu ilmu yang mencoba memelajari hubungan antara tumbuhan, binatang, dan manusia dengan lingkungannya dan mengapa mereka ada disitu. Ekologi berasal dari bahasa Yunani 'oikos' (rumah atau tempat hidup) dan 'logos' (ilmu). Secara harfiah ekologi adalah pengkajian hubungan organisme-organisme atau kelompok organisme terhadap lingkungannya. Ekologi hanya mempelajari apa yang ada dan apa yang terjadi di alam dengan tidak melakukan percobaan.
Menurut Odnum, ekologi mutakhir adalah suatu studi yang mempelajari struktur dan fungsi ekosistem atau alam di mana manusia adalah bagian dari alam. Struktur disini munjukkan suatu keadaan dari sistem ekologi pada waktu dan tempat tertentu termasuk kerapatan, biomasa, penyebaran potensi unsur hara, energi, faktor fisik dan kimia lainnya yang mencirikan keadaan sistem tersebut. Sedangkan fungsinya menggambarkan hubungan sebab akibat yang terjadi dalam sistem. Jadi pokok utama ekologi adalah mencari pengertian bagaimana fungsi organisme di alam. Pada dasarnya ekologi adalah ilmu dasar yang tidak mempraktikan sesuatu. Ekologi adalah ilmu tempat memertanyakan dan menyelidik. Ekologi berkaitan dengan berbagai ilmu pengetahuan yang relevan dengan kehidupan manusia.
Ekosistem  adalah hubungan timbal balik antara unsur-unsur hayati dengan nonhayati yang membentuk sistem ekologi atau tingkatan organisasi kehidupan yang mencakup organisme dan lingkungan tak hidup, dimana kedua komponen tersebut saling mempengaruhi dan berinteraksi. Pada ekosistem, setiap organisme mempunyai suatu peranan, ada yang berperan sebagai produsen, konsumen ataupun dekomposer. Ekosistem merupakan suatu interaksi yang kompleks dan memiliki penyusun yang beragam.
Menurut (Resosoedarmo dkk. 1984) kajian ekologi dibagi menjadi:
a.       Autekologi
Ekologi yang mempelajari suatu jenis (species) organisme yang berinteraksi dengan lingkungannya. Biasanya ditekankan pada aspek siklus hidup, adaptasi terhadap lingkungan, sifat parasitis atau non-parasitis, dan lain-lain. Dengan kata lain penekanannya pada sejarah-sejarah hidup dan kelakuan dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan, contohnya adalah mempelajari kemampuan adaptasi pohon merbau (Intsia palembanica) di padang alang-alang, dan lain sebagainya.
b.      Sinekologi
Ekologi yang mengkaji berbagai kelompok organisme sebagai suatu kesatuan yang saling berinteraksi dalam suatu daerah tertentu. Sering pula kita dengar istilah lain seperti: ekologi jenis (pengelompokan makhluk hidup berdasarkan keturunan yang berkaitan secara fisiologis), ekologi populasi (kumpulan makhluk hidup sejenis atau satu spesies yang menempati kawasan tertentu), ekologi komunitas (kumpulan populasi yang menempati suatu wilayah tertentu), dan ekologi ekosistem (tempat dimana terjadinya proses saling interaksi dan ketergantungan antara makhluk hidup sebagai komponen biotik, dengan lingkungan hidupnya yang merupakan komponen abiotik). Namun sekarang terdapat kecenderungan untuk meninggalkan pembagian seperti tersebut. Misalnya mempelajari struktur dan komposisi spesies tumbuhan di hutan rawa, hutan gambut, atau di hutan payau, mempelajari pola distribusi binatang liar di hutan alam, hutan wisata, suaka margasatwa, atau di taman nasional, dan lain sebagainya.

             C.    Konsep Ekologi sebagai Struktur dan Fungsi
Ekologi adalah suatu studi tentang struktur dan fungsi ekosistem atau alam dan manusia sebagai bagiannya. Struktur ekosistem menunjukkan suatu keadaan dari sistem ekologi pada waktu dan tempat tertentu termasuk keadaan densitas organisme, biomassa, penyebaran materi (unsur hara), energi, serta faktor-faktor fisik dan kimia lainnya yang menciptakan keadaan sistem tersebut.
Fungsi ekosistem menunjukan hubungan sebab akibat yang terjadi secara keseluruhan antar komponen dalam sistem.Ini jelas membuktikan bahwa ekologi merupakan cabang ilmu yang mempelajari seluruh pola hubungan timbal balik antara makhluk hidup yang satu dengan makhluk hidup lainnya, serta dengan semua komponen yang ada di sekitarnya.Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik antara lain suhu, air, kelembaban, cahaya, dan topografi.Sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba.Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukan kesatuan.
Ekologi mencoba memahami hubungan timbal balik atau interaksi antara tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia dengan alam lingkungannya, agar dapat menjawab pertanyaan: Dimana mereka hidup? Bagaimana mereka hidup dan mengapa mereka hidup disana?Hubungan- hubungan tersebut sedemikian kompleks dan erat sehingga Odum (1971) menyatakan bahwa ekologi adalah “Environmental Biology“.

            D.    Susunan Ekosistem
Suatu ekosistem berdasarkan susunan dan fungsinya tersusun dari beberapa komponen sebagai berikut :
1.      Komponen autotrof
autotrof berasal dari kata Auto yang berarti sendiri,   dan trophikos yang berarti “menyediakan makan” pengertian dari Autotrof adalah organisme yang mampu menyediakan/mensintesis makanan sendiri yang berupa bahan organik dari bahan anorganik dengan bantuan energi seperti matahari dan kimia. Komponen autotrof berfungsi sebagai produsen, contohnya tumbuh-tumbuhan hijau.
2.      Komponen heterotrof
Heterotrof berasal dari kata “Heteros” yang berarti  berbeda, dan trophikos yang berarti makanan).Pengertian dari Heterotrof merupakan organisme yang memanfaatkan bahan-bahan organik sebagai makanannya dan bahan tersebut disediakan oleh organisme lain. Yang tergolong heterotrof adalah manusia, hewan, jamur, dan mikroba.
a.         Bahan tak hidup (abiotik)
Bahan tak hidup yaitu komponen fisik dan kimia yang terdiri dari tanah, air, udara, sinar matahari. Bahan tak hidup merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan tempat hidup.
b.        Pengurai (dekomposer)
Pengertian dari Pengurai adalah organisme heterotrof yang menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme mati (bahan organik kompleks). Organisme pengurai menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan melepaskan bahan-bahan yang sederhana yang dapat digunakan kembali oleh produsen. Termasuk pengurai ini adalah bakteri dan jamur.


Sumber:
Odum, E. P. 1971. Dasar-Dasar Ekologi. Yogyakarta: Edisi ketiga Gadjah Mada University Press.
___________1983. Basic Ecology. Sounders College publishing Tokyo Holt- Sounders Japan.

Resosoedarmo, S. Kartawinata Kuswata. 1993. Pengantar Ekologi. Bandung: Remaja Rosdakarya Offeset.

Ringkasan Model Pemerolehan Konsep Paul Eggen dan Kauchak

MODEL PEMBELAJARAN PEMEROLEHAN KONSEP
(ATTAINMENT CONCEPT)

Tujuan Pembelajaran Model Pemerolehan Konsep
1.         Model Pembelajaran Pemerolehan Konsep dirancang untuk membantu siswa memperdalam dan menguraikan pemahaman mereka tentang konsep yang telah mereka miliki beberapa pengalaman. Pelajaran Konsep Pencapaian juga membantu siswa memperdalam pemahaman mereka tentang konsep yang terkait erat.
2.         Model Pencapaian Konsep juga dirancang secara unik untuk memberikan para siswa praktik dalam berpikir kritis, dan khususnya pengujian hipotesis dalam konteks metode ilmiah.
Merencanakan Pelajaran Menggunakan Model Pencapaian Konsep
1.         Guru merencanakan kegiatan pencapaian konsep dengan mengidentifikasi konsep tertentu dan membuat atau menemukan contoh dan tidak ada contoh konsep.
2.         Setelah mengidentifikasi contoh dan tidak ada contoh, pengurutan dengan cara yang memberikan jumlah latihan maksimum dengan pengujian hipotesis adalah langkah terakhir dalam proses perencanaan.
Menggunakan Pelajaran Menggunakan Model Pencapaian Konsep
1.         Karena peserta didik cenderung tidak terbiasa dengan prosedur Pencapaian Konsep, menggunakan topik yang akrab untuk memperkenalkan strategi dapat efektif, terutama ketika menggunakan model dengan anak-anak muda.
2.         Pelajaran dimulai ketika guru menyajikan contoh dan tidak ada contoh.
3.         Siswa kemudian menghasilkan hipotesis, yang diikuti oleh lebih banyak contoh, analisis hipotesis menggunakan contoh tambahan, dan pengujian hipotesis lanjutan sampai hipotesis tunggal telah diisolasi.
4.         Pelajaran datang ke penutupan ketika konsep didefinisikan, karakteristik diidentifikasi, dan konsep ini terkait dengan konsep terkait.
Menyesuaikan Model Pencapaian Konsep dalam Berbagai Lingkungan Pembelajaran yang Berbeda
1.         Kegiatan pencapaian konsep dapat digunakan dengan anak-anak muda dengan membuat topik dan contoh-contoh yang konkret dan mengurangi penekanan pada contoh-contoh.
2.         Pertimbangan yang hati-hati dari pengetahuan awal siswa dan peningkatan penggunaan kerja kelompok dapat menjadi adaptasi yang efektif dari pelajaran pencapaian konsep ketika bekerja dengan siswa yang menjadi anggota minoritas budaya.
3.         Concept Attainment II adalah modifikasi di mana siswa secara strategis memilih contoh dari daftar yang disediakan oleh guru untuk menguji hlpotheses
4.         Pencapaian Konsep III adalah modifikasi lebih lanjut di mana peserta didik menghasilkan contoh mereka sendiri untuk menguji hlpotheses mereka.
5.         Teknologi dapat digunakan untuk membuat program pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk berpartisipasi dalam kegiatan pencapaian konsep dalam pengaturan individual.
Menilai Pembelajaran Siswa dalam Kegiatan Pencapaian Konsep
1.         Ketika menggunakan Model Pencapaian Konsep, guru menilai pemahaman konsep siswa, serta kemampuan mereka untuk berpikir secara kritis.
2.         Guru dapat menilai pemahaman siswa dan pemahaman konsep dengan meminta mereka mendefinisikan konsep, mengidentifikasi karakteristik konsep, mengidentifikasi hubungan antara konsep dan konsep yang terkait erat, atau mengidentifikasi atau membuat contoh unik dari konsep tersebut.
3.         Mengidentifikasi atau membuat contoh unik dari konsep adalah cara paling efektif untuk menilai pemahaman konsep siswa.

4.         Guru dapat menilai pemikiran kritis dengan meminta pembelajar menganalisis hipotesis ketika mereka disajikan dengan contoh tambahan. Menilai pemikiran selalu melibatkan penilaian pemahaman konten secara bersamaan.

Jumat, 30 Maret 2018

Model Concept Attainment




Menerapkan Pelajaran Menggunakan Model Pemerolehan Konsep
(Concept Attainment Model)


Pemerolehan konsep dimulai ketika guru memberikan contoh dan noncontoh serta terus melakukan itu sampai siswa telah memisahkan satu hipotesis tunggal dan menerapkan hipotesis itu pada contoh-contoh baru. Proses ini terjadi dalam empat (4) fase, yaitu :
1.    Fase I  : Pendahuluan
Pada fase ini guru memperkenalkan pelajaran dan menjelaskan bagaimana kegiatan akan dilakukan. Pada fase ini pelajaran memerlukan perkenalan cermat agar siswa merasa nyaman dengan prosesnya.
2.    Fase II : Contoh dan Merumuskan Contoh
Setelah guru memperkenalkan siswa mengenai cara pelajaran Pemerolehan Konsep dilakukan, guru kemudian memberikan siswa contoh dan noncontoh, dan siswa diminta untuk menghipotesiskan pendapat mereka tentang konsep itu.
3.    Fase III : Siklus Analisis
Pada fase ini, guru selanjutnya menunjukkan contoh dan noncontoh berdasarkan urutan apapun yang menurut guru paling efektif untuk membantu siswa mengembangkan konsep dan melatih pemikiran kritis siswa. Setelah memberikan contoh dan noncontoh, guru meminta siswa menganalisis hipotesis-hipotesis yang ada untuk mengetahui apakah hipotesis-hipotesis tersebut tetap valid berdasarkan informasi baru. Selain itu, guru juga mendorong siswa untuk menawarkan hipotesis-hipotesis baru yang didukung data.
4.    Fase IV : Penutup dan Penerapan
Di dalam fase ini, guru meminta siswa mengidentifikasi karakteristik utama dari konsep, menyatakan definisi, dan menghubungkannya dengan konsep. Definisi akan memperkuat pemahaman siswa dengan mencakup konsepnya ke dalam kategori lebih umum dimana konsep itu bisa diklasifikasikan dan menentukan karakteristik-karakteristik konsep tersebut.

Sumber : Eggen, Paul Don Kouchak. 2012. Strategi dan Model Pembelajaran. Jakarta: PT. Indeks

Kamis, 01 Maret 2018

Tanah dan Pencemaran Tanah

TANAH DAN PENCEMARAN TANAH
I. Tanah
Tanah adalah suatu benda alam yang terdapat dipermukaan kulit bumi, yang tersusun dari bahan-bahan mineral sebagai hasil pelapukan batuan, dan bahan-bahan organik sebagai hasil pelapukan sisa-sisa tumbuhan dan hewan, yang merupakan medium atau tempat tumbuhnya tanaman dengan sifat-sifat tertentu, yang terjadi akibat dari pengaruh kombinasi faktor-faktor iklim, bahan induk, jasad hidup, bentuk wilayah dan lamanya waktu pembentukan (Yuliprianto, 2010). 
Hanafiah (2007) menyebutkan tanah secara umum terbagi atas empat lapisan yang meliputi lapisan tanah atas, lapisan tanah tengah, lapisan tanah bawah, dan lapisan batuan induk.


1.        Lapisan Tanah Atas
Merupakan lapisan yang terletak hingga kedalaman 30 cm, sering disebut dengan istilah Top Soil. Pada lapisan ini kaya dengan bahan bahan organik, humus dan menjadikannya sebagai lapisan paling subur sehingga sangat cocok untuk pertumbuhan tanaman berakar pendek.
Cara paling mudah untuk mengenali top soil adalah warnanya yang cenderung paling gelap dibandingkan lapisan dibawahnya, terlihat lebih gembur dan semua mikroorganisme hidup pada lapisan ini sehingga memungkinkan terjadinya proses pelapukan daun, sisa batang dan bagian makhluk hidup lainnya.

2.        Lapisan Tanah Tengah
Terletak tepat dibagian bawah dari top soil dengan ketebalan antara 50 cm hingga 1 meter. Berwarna lebih cerah daripada lapisan diatasnya dan lapisan ini terbentuk dari campuran pelapukan yang terletak di lapisan bawah dengan sisa material top soil yang terbawa air, mengendap sehingga bersifat lebih padat dan sering disebut dengan tanah liat.

3.        Lapisan Tanah Bawah
Merupakan lapisan yang mengandung batuan yang mulai melapuk dan sudah tercampur dengan tanah endapan pada lapisan diatasnya atau tanah liat. Pada bagian ini masih terdapat batuan yang belum melapuk dan sebagian sudah dalam proses pelapukan dari jenis batuan itu sendiri dan berwarna sama dengan batuan penyusunnya atau asalnya. Berada cukup dalam dan jarang dapat ditembus oleh akar akar pohon atau tanaman.

4.        Lapisan Batuan Induk
Merupakan lapisan terdalam yang terdiri atas batuan padat. Jenis batuan pada lapisan ini berbeda antara satu daerah dengan tempat lainnya sehingga menyebabkan produk tanah yang dihasilkan juga berbeda. Batuan pada lapisan ini mudah pecah namun sangat sulit ditembus oleh akar tanaman dan air, berwarna terang putih kelabu hingga kemerahan. Lapisan batuan induk ini dapat dengan mudah terlihat pada dinding tebing terjal daerah pengunungan.

II.   Pencemaran Tanah
Pencemaran tanah dapat diartikan sebagai adanya bahan kimia buatan manusia masuk dan merusak keadaan lingkungan tanah alami. Tanah dapat tercemar jika ada bahan kimia baik organik maupun anorganik yang dibuang langsung ke tanah dalam keadaan yang tidak memenuhi syarat (illegal dumping) seperti limbah industri, limbah pertambangan, residu pupuk dan pestisida, hingga bekas instalasi senjata kimia. Bentuk kontaminasi berupa berbagai unsur dan substansi kimia berbahaya yang mengganggu keseimbangan fisik, kimia, dan biologi tanah (Sembel, 2015).
Ketika suatu zat berbahaya atau beracun telah mencemari permukaan tanah, maka ia dapat menguap, tersapu air hujan dan atau masuk ke dalam tanah. Pencemaran yang masuk ke dalam tanah kemudian terendap sebagai zat kimia beracun di tanah. Zat beracun di tanah tersebut dapat berdampak langsung kepada manusia ketika bersentuhan atau dapat mencemari air tanah dan udara di atasnya (Tonapa, 2015),

III. Sumber dan Penyebab Pencemaran dalam Tanah
Berbagai sumber dan penyebab pencemaran yang dapat mengakibatkan mundurnya kualitas tanah diantaranya limbah industri, kegiatan pertambangan, limbah rumah tangga, dan penggunaan bahan-bahan agrokimia.

1.    Limbah Industri
Limbah industri dalam proses produksinya menggunakan bahan baku utama dan bahan baku penunjang. Diantara bahan baku yang digunakan ada yang mengandung logam berat, sehingga limbah yang dihasilkan dapat mengandung unsur-unsur yang sama seperti bahan bakunya. Para pelaku industri biasanya membuang limbah ke dalam bahan air atau sungai tanpa melalui proses pengolahan limbah terlebih dahulu. Limbah industri dapat berasal dari limbah rumah tangga atau pabrik-pabrik domestik, seperti perhotelan, rumah makan, pasar, tempat wisata, instansi pemerintahan dan lainnya. Limbah yang dihasilkan dapat berupa limbah padat ataupun cair (Erfandi dan Juarsah, 2014).
Limbah padat merupakan limbah buangan yang berasal dari industri pabrik yang berupa bubur, padatan, atau lumpur dari hasil pengolahan pabrik tersebut, misalnya limbah dari pabrik gula, rayon, kertas dan pengawet buah. Limbah cair merupakan limbah buangan yang bentuknya berupa cairan. Contoh limbah cair adalah sisa dari pengolahan limbah logam ataupun limbah kimia. Limbah cair ini sangat berbahaya terutama jika limbah tersebut mengandung berbagai bahan kimia yang berpotensi mengganggu kesehatan manusia. kesehatan manusia (Imran, 2014).

2.    Pencemaran Tanah oleh Kegiatan Pertambangan
Pertambangan dan indsutri pengolahan bijih logam pada banyak negara telah mewariskan kontaminasi logam dalam tanah yang cukup luas. Kegiatan pertambangan sangat potensial menimbulkan dampak pada tanah dan badan air. Dari pertambangan, bahan pencemar tidak ditambang secara sendiri, tetapi merupakan bahan ikutan dari pengolahan tambang dan produksi timah hitam (Pb), Seng (Zn), Kuprum (Cu), batu bara dan minyak (Notophadiprawiro, 2006).

3.    Pencemaran Tanah Oleh Limbah Rumah Tangga
Limbah rumah tangga merupakan bahan sisa yang dihasilkan dari kegiatan rumah tangga. Contoh limbah rumah tangga adalah sampah baik organik maupun anorganik, detergen, kotoran, dan asap hasil pembakaran. Pembuangan sampah yang tidak teratur menyebabkan terjadinya pencemaran baik di tanah, air maupun udara. Selain itu, pembuangan limbah mandi, mencuci, dan kakus masih banyak yang dibuang ke sungai (Harmayani, 2007).

4.    Pencemaran Tanah Oleh Limbah Pertanian (Agrokimia)
Dalam aplikasi, penggunaan bahan-bahan agrokimia seperti pupuk dan pestisida selain membawa dampak baik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman, ternyata juga membawa dampak negatif bagi lingkungan yaitu menjadi sumber pencemaran baik tanah, air dan udara. Bahan agrokimia dikategorikan sebagai sumber pencemar karena adanya kandungan unsur serta senyawa-senyawa tertentu yang masuk kedalam suatu sistem dimana unsur maupun senyawa tersebut tidak diperlukan dalam jumlah yang banyak (Sutanto, 2008). Penggunaan bahan agrokimia tersebut akan meninggalkan residu yang apabila terakumulasi akan mencemari lingkungan dan mempengaruhi kehidupan makhluk hidup ditempat terakumulasinya residu bahan tersebut. Residu bahan agrokimia di dalam tanah ini juga mengakibatkan terhambatnya proses dekomposisi secara alami oleh mikroba di dalam tanah. Hal ini dikarenakan sifat bahan agrokimia yang lebih sukar terurai, sehingga berapapun banyaknya tanah diberi pupuk hasilnya tetap tidak optimal (Notohadiprawiro, 2006). 

Dampak lain dari penggunaan bahan agrokimia adalah tanah menjadi masam dan mempercepat habisnya zat-zat organik tanah, rusaknya lahan sebagai akibat merosotnya struktur tanah, dan pemadatan tanah. Pemadatan tanah akan mengakibatkan porositas tanah menurun, sehingga ketersediaan oksigen bagi tanaman maupun mikrobia tanah menjadi sangan berkurang (Sutanto, 2008).


 Sumber Pustaka

Erfandi, D. dan Juarsah I. 2014. Teknologi Pengendalian Pencemaran Logam Berat pada Lahan Pertanian. Balitbang. http://www.litbang.pertanian.go.id/buku/konservasi-tanah/BAB-VII.pdf (Diakses 21 September 2017)

Hanafiah, K.A. 2007. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Raja Grafindo Persada. Jakarta
Harmayani, K.D. 2007. Pencemaran tanah akibat pembuangan limbah domestik. https://ojs.unud.ac.id/index.php/natah/article/view/3037/2194 (Diakses 21 September 2017)
Imran, A. 2014. Limbah dan Pencemarannya. eprints.ung.ac.id/5039/6/2012-1-13201-811408001-bab2-15082012113741.ps (Diakses 21 September 2017)
Notohadiprawiro. T. 2006. Logam Berat dalam Pertanian. Repro Ilmu tanah Universitas Gadjah Mada
Santoso, S. 2015. Dampak Negatif Pencemaran terhadap Lingkungan dan Upaya Mengatasinya (http://bio.unsoed.ac.id/sites/default/files/Dampak%20Negatif%20Sampah%20terhadap%20Lingkungan%20dan%20Upaya%20Mengatasinya-.pdf). (Diakses 21 September 2017)
Sembel, D.T. 2015. Toksikologi Lingkungan Dampak Pencemaran Berbagai Bahan Kimia dalam kehidupan Sehari-hari. CV ANDI OFFSET. Yogyakarta
 Sutanto, R. 2008. Penerapan Pertanian Organik. Kanisius. Yogyakarta
 Tonapa R. 2015. Pencemaran Lingkungan. e-journal.uajy.ac.id .id/6980/3/BL201125.pdf (Diakses 21 September 2017)
 Yulipriyanto, H. 2010. Biologi Tanah dan Strategi Pengelolaannya. Graha Ilmu. Yogyakarta.